bytedaily - Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menyoroti peran krusial inisiatif pemerintah, likuiditas pasar yang sehat, serta komitmen kuat terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam mendorong laju investasi infrastruktur nasional. Rizki Pribadi Hasan, Presiden Direktur dan CEO IIF, menegaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kokoh untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur melalui sinergi lembaga keuangan khusus yang terintegrasi.
Sebagai lembaga pembiayaan non-bank yang telah beroperasi selama 16 tahun, IIF memposisikan diri sebagai katalisator pembangunan infrastruktur, melengkapi peran industri perbankan dan pasar modal. Selama lebih dari satu dekade, IIF bersama institusi lain telah berkontribusi dalam pembiayaan lebih dari 150 proyek infrastruktur vital. Keberadaan lembaga keuangan khusus, termasuk pembentukan dua sovereign wealth fund terbaru yang juga berfungsi sebagai super holding BUMN, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem pendukung pertumbuhan ekonomi. Kolaborasi erat antar institusi ini menjadi kunci efektivitasnya.
Rizki menambahkan bahwa kondisi likuiditas domestik saat ini dinilai memadai, didukung oleh pertumbuhan basis dana pensiun dan perusahaan asuransi yang aktif mencari aset jangka panjang. IIF sendiri terus berinovasi dalam skema pembiayaan, baik tahap awal maupun take-out financing, serta memelopori instrumen pasar modal seperti green perpetual notes dan credit enhanced bonds. Namun, ia menekankan dua aspek yang tidak dapat ditawar: harga yang kompetitif dan penerapan standar ESG yang ketat. IIF telah menghabiskan lima tahun terakhir untuk menekan biaya dana sekaligus memastikan setiap proyek yang dibiayai memenuhi standar lingkungan dan sosial yang tinggi.