bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan akan terus berlanjut dalam waktu dekat. Meskipun demikian, aktivitas penting seperti bekerja, bersekolah, mengunjungi keluarga, dan berobat tetap harus dijalani. Banyak orang mencari cara untuk menghemat pengeluaran BBM, salah satunya dengan mengurangi kecepatan berkendara.
Menurut laporan tersebut, mengemudi lebih lambat dapat membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar. Memaksa akselerasi di jalan tol atau saat lampu merah akan membakar lebih banyak bahan bakar karena mobil harus mengatasi inersia. Di jalan tol, situasinya sedikit berbeda. Pada kecepatan 75 mil per jam (sekitar 120 km/jam), konsumsi bahan bakar menurun drastis. Semakin cepat kendaraan melaju, semakin besar energi yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan udara (aerodynamic drag), yang menurut Auto Research Center (ARC) menyumbang 50% dari penggunaan bahan bakar di jalan tol.
Baik itu mobil diesel, bensin, maupun hibrida, faktor-faktor seperti membatasi waktu idle, menjaga kondisi mobil, dan mengurangi penggunaan AC dapat menghemat BBM. Namun, kecepatan merupakan faktor utama. Setelah melewati kecepatan 45 hingga 55 mil per jam (sekitar 72-88 km/jam), jarak tempuh per galon (MPG) akan menurun seiring dengan peningkatan energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan kecepatan.
Secara sederhana, perhitungan hambatan udara menunjukkan bahwa kecepatan sebuah objek berbanding kuadrat. Artinya, mobil yang melaju dua kali lebih cepat akan menghadapi hambatan udara empat kali lebih besar dan membutuhkan tenaga lebih besar untuk mengatasinya. Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) memperkirakan bahwa setiap 5 mil per jam (sekitar 8 km/jam) di atas 50 mil per jam (sekitar 80 km/jam) akan menambah biaya sekitar $0,27 per galon, dengan asumsi harga bensin $3,83 per galon.
Dalam hal volume konsumsi, bagan DOE menunjukkan bahwa mobil ukuran sedang dengan mesin diesel yang mampu menempuh 55 mil per galon (sekitar 23,4 km/liter) saat melaju 55 mil per jam (sekitar 88 km/jam), akan mengonsumsi 31% lebih sedikit bahan bakar dibandingkan mobil yang melaju pada kecepatan 75 mil per jam (sekitar 120 km/jam) yang hanya mampu menempuh 37 mil per galon (sekitar 15,7 km/liter).
Untuk mobil hibrida, efisiensi bahan bakar akan turun 28% antara kecepatan 55 dan 75 mil per jam, dari 45 mil per galon (sekitar 19,1 km/liter) menjadi 33 mil per galon (sekitar 14 km/liter). Mobil bensin konvensional menunjukkan pola yang sedikit berbeda, menggunakan 25% lebih sedikit bensin pada kecepatan 45 mil per jam dibandingkan 75 mil per jam, namun penurunannya menjadi 28% pada kecepatan 55 mil per jam dibandingkan 75 mil per jam.
Temuan ini mendukung kebijakan batas kecepatan nasional 55 mil per jam yang diberlakukan oleh Presiden Richard Nixon pada tahun 1974 sebagai respons terhadap krisis minyak saat itu. Kondisi saat ini mungkin akan mendorong perubahan serupa, bahkan bisa saja mengakhiri tren SUV dan menjadi waktu yang tepat untuk mencari mobil hibrida plug-in bekas.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.