bytedaily - Dilansir dari techcrunch.com, Theo Baker, seorang mahasiswa Stanford yang awalnya berencana mendalami bidang teknologi, justru berhasil mengungkap skandal besar yang memaksa rektor universitas tersebut mengundurkan diri. Sebelum lulus, Baker merilis bukunya yang berjudul 'How to Rule the World', sebuah laporan mendalam mengenai pengalamannya di Stanford dan hubungannya dengan industri modal ventura.
Baker memulai investigasinya di semester pertama perkuliahannya. Ia bergabung dengan surat kabar mahasiswa untuk mengenang kakeknya yang gemar menulis di sana. Tak disangka, investigasi pertamanya berujung pada penemuan komentar di situs PubPeer yang mencurigai adanya manipulasi gambar dalam makalah yang ditulis bersama oleh Rektor Stanford, Marc Tessier-Lavigne. Laporan ini, yang diterbitkan sebelum tahun pertamanya berakhir, bahkan membawanya meraih George Polk Award, salah satu penghargaan tertinggi dalam jurnalisme.
Selama proses investigasi, Baker menghadapi berbagai tantangan. Ia diperingatkan bahwa Tessier-Lavigne memiliki reputasi yang sangat baik dan upaya pelaporannya akan menempatkannya dalam posisi sulit. Namun, Baker tetap melanjutkan penyelidikannya. Setelah artikel pertamanya terbit, dewan pengawas mengumumkan investigasi mereka sendiri. Baker menemukan bahwa salah satu anggota dewan yang mengawasi investigasi tersebut memiliki investasi besar di Denali Therapeutics, perusahaan biotek yang didirikan Tessier-Lavigne. Tessier-Lavigne sendiri berulang kali menolak berkomentar dan menyebut laporan Baker sebagai 'luar biasa keterlaluan dan penuh kebohongan'.
Buku 'How to Rule the World' yang dirilis Baker tidak hanya membahas skandal rektor, tetapi juga konsep yang ia sebut sebagai 'Stanford di dalam Stanford', yang mengacu pada hubungan kompleks universitas tersebut dengan industri modal ventura.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi techcrunch.com.