bytedaily
Rabu, 08 Juli 2026 - 04:18 WIB

Manusia Hobbit Flores Ternyata Pemakan Bangkai, Bukan Pemburu Andal

Redaksi 07 Juli 2026 5 views
Manusia Hobbit Flores Ternyata Pemakan Bangkai, Bukan Pemburu Andal
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah studi terbaru telah mengungkap bahwa Homo floresiensis, yang dikenal sebagai Manusia Hobbit asal Indonesia, ternyata lebih cenderung memakan bangkai atau sisa makanan dari hewan lain, seperti komodo. Temuan ini mengindikasikan bahwa mereka bukanlah pemburu ulung yang mampu menaklukkan hewan berukuran besar.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menambahkan bukti yang menunjukkan bahwa Homo floresiensis, yang ditemukan di Gua Liang Bua, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tidaklah sepintar yang sebelumnya diperkirakan oleh para ilmuwan. Fosil manusia berukuran kerdil ini pertama kali ditemukan pada tahun 2003. Makhluk ini memiliki tengkorak seukuran buah jeruk bali dan tinggi badan diperkirakan hanya sekitar 1 meter.

Di lokasi penemuan fosil Homo floresiensis, para peneliti juga menemukan alat-alat batu dan tulang-tulang Stegodon florensis, kerabat gajah purba yang telah punah dengan ukuran sebesar kerbau. Temuan awal ini sempat memunculkan spekulasi bahwa para 'hobbit' berburu hewan besar menggunakan perkakas tersebut, bahkan ada dugaan mereka sudah bisa menggunakan api karena ditemukannya tulang hewan kecil yang hangus.

Perilaku seperti berburu hewan besar dan menggunakan api umumnya dikaitkan dengan kelompok manusia berotak besar seperti Neanderthal, Homo sapiens, atau Homo erectus. Dugaan kemampuan ini sempat membuat sebagian peneliti meyakini adanya kekerabatan dekat antara hobbit dengan Homo erectus.

Namun, tim peneliti baru-baru ini melakukan analisis mendalam terhadap tulang-tulang Stegodon yang ditemukan di Flores untuk meneliti bagaimana Homo floresiensis yang hidup di pulau terisolasi tersebut pada periode sekitar 190.000 hingga 50.000 tahun lalu berinteraksi dengan hewan. Elizabeth Grace Veatch, seorang paleoantropolog yang turut serta dalam penelitian ini, menyatakan ingin mengkonfirmasi apakah Homo floresiensis benar-benar sebagai pemburu tangguh seperti yang digambarkan selama ini.

Para peneliti mencatat ribuan alat batu ditemukan bersama fosil Homo floresiensis, menunjukkan kemampuan mereka membuat alat dari batuan rijang untuk menyayat daging dari tulang Stegodon. Namun, mereka perlu memastikan apakah bekas luka pada tulang Stegodon tersebut benar-benar akibat perburuan oleh hobbit. Stegodon dewasa diketahui memiliki bobot sekitar 570 kilogram.

Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti mengamati seekor komodo bernama Rinca di Kebun Binatang Atlanta, Amerika Serikat, saat sedang mencabik bangkai kambing. Pengamatan ini bertujuan untuk memahami pola bekas gigitan komodo pada tulang. Hasil pemindaian 3D pada tulang kambing sisa makanan komodo tersebut kemudian dibandingkan dengan bekas sayatan alat batu buatan manusia, serta bekas luka pada tulang Stegodon dari Gua Liang Bua.

Veatch mengungkapkan keterkejutannya saat membandingkan tanda pada tulang Stegodon dengan sampel gigitan komodo. Ia menemukan bahwa sebagian besar tanda pada tulang purba tersebut sangat mirip dengan sampel gigitan komodo. Bekas gigitan komodo paling banyak ditemukan pada bagian tubuh Stegodon, yang semakin memperkuat dugaan bahwa Homo floresiensis lebih memanfaatkan bangkai hewan daripada memburunya secara langsung.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.