bytedaily - Melansir laporan dari skynews.com.au, lebih dari 60 persen penduduk Australia memprediksi negara tersebut akan mengalami resesi pada akhir tahun ini. Prediksi ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang terus tertekan oleh inflasi tinggi dan produktivitas rendah yang membebani rumah tangga.
Data terbaru dari situs perbandingan Finder, yang dibagikan secara eksklusif kepada SkyNews.com.au, menunjukkan bahwa 48 persen warga Australia merasa resesi kemungkinan besar terjadi pada akhir tahun, sementara 16 persen lainnya meyakini resesi pasti akan terjadi.
Kondisi ini diperkuat dengan konfirmasi dari Biro Statistik Australia bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Australia hanya tumbuh 0,3 persen dan produktivitas, yang mengukur PDB per jam kerja, mengalami penurunan sebesar 0,6 persen pada kuartal Maret.
Penurunan produktivitas dapat meningkatkan tekanan inflasi, yang berpotensi mendorong Reserve Bank of Australia untuk menaikkan suku bunga. Hal ini juga dikhawatirkan dapat menyebabkan lonjakan angka pengangguran, yang berdampak buruk bagi mata pencaharian banyak warga Australia.
Sarah Megginson, pakar keuangan pribadi di Finder, menyatakan bahwa kecemasan ekonomi terkait inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga membebani rumah tangga yang sedang kesulitan. "Rumah tangga di seluruh negeri berada di bawah tekanan finansial yang intens dan banyak warga Australia khawatir ekonomi bisa memburuk secara signifikan sebelum membaik," ujarnya. Ia menambahkan, "Meskipun resesi tidak dijamin, fakta bahwa begitu banyak warga Australia memprediksinya menunjukkan kepercayaan pada ekonomi rapuh."
Namun, tidak semua responden survei meyakini resesi akan segera terjadi. Sebanyak 18 persen menyatakan merasa resesi tidak mungkin terjadi, dan 15 persen mengaku tidak yakin.