bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, tindakan menyalakan mobil dengan menyambungkan kabel secara paksa, yang kerap digambarkan mudah dalam film, kini menjadi jauh lebih rumit untuk kendaraan modern. Jika pada mobil-mobil lawas metode ini cukup sederhana, bahkan bisa dipelajari dari berbagai sumber daring, mobil-mobil masa kini telah menambahkan lapisan keamanan yang membuat cara tradisional tersebut tidak lagi efektif.
Secara mendasar, menyalakan mesin pembakaran internal membutuhkan penutupan sirkuit antara aki 12 volt kendaraan dengan motor starter. Listrik dari aki inilah yang memberikan tenaga awal untuk memutar mesin. Pada mobil tua, kunci kontak berfungsi menutup sirkuit ini. 'Hotwiring' gaya lama hanya melibatkan pembongkaran silinder kunci kontak dan menyambungkan beberapa kabel secara langsung.
Perubahan mulai terjadi ketika General Motors (GM) memperkenalkan Sistem Anti-Pencurian Kendaraan (VATS) pada Chevrolet Corvette tahun 1986. Sistem ini menggunakan resistor kecil yang terintegrasi pada kunci. Akibatnya, sirkuit starter hanya bisa ditutup jika arus listrik yang melewati resistor tersebut sesuai dengan nilai yang telah ditentukan, yang juga diverifikasi oleh pembaca arus.
Langkah pencegahan 'hotwiring' selanjutnya diambil oleh Ford pada tahun 1997 dengan mengganti resistor pada kunci mobil Mustang dengan chip RFID. Dengan adanya perkembangan ini, menyambungkan kabel secara fisik untuk menutup sirkuit—definisi konvensional dari 'hotwiring'—tidak lagi berfungsi.
Namun, para pencuri mobil juga telah mengembangkan metode baru. Kendaraan yang lebih baru mengadaptasi konsep ini seiring evolusi kunci menjadi gantungan kunci (fob) berteknologi canggih. Mobil-mobil ini umumnya menggunakan chip RFID pada fob, bukan pada kunci fisik, yang memungkinkan fitur pengapian tombol tekan (pushbutton ignition). Prinsip dasarnya tetap sama, di mana mobil dan chip berkomunikasi secara elektronik, dan kendaraan hanya akan menyala jika mobil mengenali chip tersebut.
Sayangnya, hal ini justru membuka celah baru bagi pencuri yang mungkin lebih mudah daripada 'hotwiring' tradisional. Karena kunci fisik tidak lagi diperlukan, pelaku kejahatan dapat dengan mudah mengkloning chip asli dan menggunakan salinannya untuk mengelabui sistem keamanan komputer kendaraan. Perlu dicatat, sistem pengapian tombol tekan umumnya menggunakan RFID pasif, di mana chip fob hanya memancarkan sinyal sebagai respons terhadap permintaan dari pembaca. Namun, ini bukan masalah bagi pelaku kejahatan yang memiliki alat pembaca chip sendiri. Salah satu alat yang baru-baru ini menjadi sorotan adalah Flipper Zero, yang dibanderol mulai dari $199 dan berpotensi digunakan untuk mencuri mobil seperti Tesla.
Produsen mobil telah merespons peningkatan dalam perlombaan senjata pencurian mobil ini dengan inovasi mereka sendiri, seperti pengenalan sistem RFID yang menggunakan 'rolling codes'. Alih-alih mengirimkan kode pengenalan yang sama setiap kali, kode tersebut diubah setiap saat. Tentu saja, peretas juga telah menemukan cara untuk mengalahkan taktik ini, sehingga persaingan terus berlanjut.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.