bytedaily - Langkah PT Pertamina (Persero) melakukan merger tiga anak usahanya, yaitu PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, dan PT Pertamina International Shipping, menjadi subholding hilir (downstream) disambut positif oleh berbagai pihak. Ekonom Indef, Abra Talattov, melihat aksi korporasi ini sebagai upaya konsolidasi untuk merapikan struktur bisnis internal dan mengurangi tumpang tindih fungsi.
Abra berharap merger ini dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat posisi keuangan perusahaan, serta memperlancar pengambilan keputusan dan koordinasi antar lini usaha. Namun, ia menekankan pentingnya perbaikan tata kelola, transparansi, dan disiplin operasional agar transformasi ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional dan keterjangkauan harga produk BBM serta LPG non-subsidi di tengah gejolak harga minyak dunia.
Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, juga menilai merger ini sebagai langkah strategis. Ia sepakat bahwa integrasi rantai nilai hilir migas—mulai dari pengolahan, distribusi, pemasaran, hingga logistik dan transportasi laut—bertujuan menurunkan biaya, menyederhanakan birokrasi, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing. Namun, Ateng mengingatkan agar merger ini disertai dengan perampingan struktur organisasi di tingkat induk perusahaan guna mengoptimalkan manfaatnya dan menghindari pemindahan birokrasi serta biaya.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa integrasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, dan meningkatkan daya saing perusahaan di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global. Dengan bekerja sebagai satu sistem, Pertamina menargetkan penghapusan redundansi, percepatan layanan, dan penyediaan pasokan energi yang andal di seluruh Indonesia, serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.