bytedaily
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 01:24 WIB

Pakar BRIN Jelaskan Api Bawah Permukaan Jadi Kendala Pemadaman TPA Jatiwaringin

Redaksi 10 Juli 2026 16 views
Pakar BRIN Jelaskan Api Bawah Permukaan Jadi Kendala Pemadaman TPA Jatiwaringin
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, seorang pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa api yang sulit dipadamkan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin disebabkan oleh keberadaan api di bawah permukaan timbunan sampah. Kondisi ini membuat air sulit menjangkau titik panas api karena oksigen masih tersedia hingga kedalaman dua meter.

Wahyu Purwanta, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, menjelaskan dalam acara daring MELODI (Media Lounge Discussion) BRIN pada Kamis (10/7) bahwa api di bawah permukaan membutuhkan penanganan lebih dari sekadar penyiraman air dari atas. Ia menambahkan bahwa alat berat seringkali diperlukan untuk membantu memadamkan api di lapisan bawah.

Wahyu membandingkan situasi ini dengan kebakaran lahan gambut, di mana api tersembunyi di bawah permukaan namun asap terus mengepul. Ia juga menekankan bahwa setiap TPA memiliki potensi risiko kebakaran, terutama saat musim kemarau yang dapat memperparah risiko tersebut.

Untuk mengantisipasi risiko kebakaran TPA, Wahyu menyarankan perlunya pengenalan risiko sejak awal melalui perbaikan operasional, pemantauan kondisi timbunan, pengelolaan gas, deteksi titik panas, pengawasan sumber api, serta peningkatan kesiapsiagaan saat musim kemarau. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan memiliki rencana konkret untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Secara ilmiah, Wahyu menjelaskan bahwa kebakaran memerlukan tiga unsur: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, bahan bakar melimpah dari sampah yang mudah terbakar seperti plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, dan material organik kering. Gas landfill seperti metana juga bisa menjadi bahan bakar. Oksigen tersedia dari udara yang masuk melalui celah dan rongga timbunan.

Menurut Wahyu, menentukan sumber penyalaan awal seringkali menjadi bagian tersulit. Meskipun pemicu umum meliputi api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda panas, atau abu, ia menegaskan bahwa penyebab spesifik kebakaran TPA Jatiwaringin sebaiknya menunggu hasil investigasi yang memadai.

Lebih lanjut, Wahyu menyatakan bahwa tidak ada satu teknologi tunggal yang cocok untuk semua jenis sampah dan semua daerah. Pemilihan teknologi yang tepat harus mempertimbangkan karakteristik sampah, skala timbulan, kondisi wilayah, kesiapan infrastruktur, pasar produk, serta kemampuan pembiayaan dan operasional jangka panjang.

Ia menekankan bahwa keberhasilan teknologi bukan hanya soal peralatan, tetapi juga kesesuaian dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residu. Untuk sampah organik, pengomposan, biodigester, atau biokonversi dapat menjadi solusi, sementara material bernilai perlu dipilah untuk didaur ulang.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.