bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:41 WIB

Pakar Jelaskan Penyebab Munculnya Blue Fire di Gunung Papandayan

Redaksi 01 Oktober 2026 14 views
Pakar Jelaskan Penyebab Munculnya Blue Fire di Gunung Papandayan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, api biru atau blue fire muncul di Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Fenomena tersebut sempat membuat jalur pendakian dan area perkemahan ditutup sementara. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menjelaskan, api biru terbentuk dari pembakaran gas belerang yang keluar melalui rekahan vulkanik.

Menurut Sonni, magma di bawah Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (H2S) dan sulfur dioksida (SO2) bersuhu sekitar 200–600 derajat Celsius melalui rekahan fumarol atau solfatara. Gas H2S yang bertemu oksigen di udara dapat terbakar. Reaksi tersebut menghasilkan sulfur dioksida, uap air, panas, dan nyala biru elektrik dengan suhu yang bisa mencapai sekitar 600 derajat Celsius.

Blue fire terlihat di sekitar fumarol aktif, yakni lubang tempat gas vulkanik keluar, antara lain di Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise. Nyala api lebih mudah diamati saat malam dalam kondisi gelap, terutama sekitar pukul 02.00 hingga 05.00 WIB.

Fenomena serupa pernah muncul setelah erupsi Papandayan pada November 2002. Erupsi itu membuka rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak. Sonni menjelaskan, gas yang sebelumnya menyebar menjadi lebih terkonsentrasi di celah sempit dengan tekanan lebih tinggi. Saat bercampur dengan udara, gas tersebut dapat terbakar dan memunculkan blue fire.

Catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan aktivitas vulkanik Papandayan meningkat, ditandai dengan bertambahnya aliran SO2 dan aktivitas gempa vulkanik dangkal. Suhu fumarol juga meningkat dari sekitar 150 derajat Celsius menjadi 300–400 derajat Celsius. Pada suhu tersebut, gas H2S dapat terbakar spontan tanpa disulut, sehingga api lebih sering terlihat, kata Sonni.

Sonni mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati lokasi blue fire. Gas vulkanik seperti SO2 berbahaya bagi pernapasan, sementara tanah di sekitar fumarol dapat rapuh akibat suhu tinggi. Ia juga menyatakan masker kain biasa tidak cukup melindungi dari paparan gas dan meminta pengunjung mengutamakan keselamatan saat mengamati fenomena tersebut pada malam hari.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.