bytedaily - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi pada 18 April 2026, memicu kekhawatiran di kalangan pengguna kendaraan mengenai opsi penghematan. Namun, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, memberikan peringatan keras terhadap praktik mengganti atau mencampur jenis BBM yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan, karena berpotensi menimbulkan kerusakan mesin jangka panjang yang memakan biaya besar.
Menurut Yannes, menurunkan oktan BBM pada kendaraan, terutama yang memiliki spesifikasi tinggi, dapat menyebabkan mesin bekerja tidak optimal. Gejalanya meliputi overheating, penurunan tenaga yang signifikan, dan ironisnya, peningkatan konsumsi bahan bakar. Dalam rentang penggunaan 10.000 hingga 20.000 kilometer, kondisi ini dapat berujung pada penumpukan deposit karbon pada ruang bakar dan injektor, mengakibatkan idle kasar, akselerasi tersendat, dan peningkatan emisi gas buang. Kendaraan berperforma tinggi dengan turbo atau rasio kompresi tinggi lebih rentan mengalami keausan komponen internal seperti ring piston.
Praktik mencampur BBM, misalnya Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, juga tidak direkomendasikan. Perbedaan komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran antara kedua jenis BBM tersebut dapat menghasilkan oktan campuran yang tidak stabil. Hal ini berpotensi menurunkan performa mesin, menyebabkan pembakaran tidak merata, dan memicu knocking sporadis. Dalam jangka menengah, dapat terbentuk endapan yang menyumbat filter bahan bakar dan merusak sistem injeksi bertekanan tinggi, yang perbaikannya bisa mencapai belasan juta rupiah. Yannes menegaskan bahwa solusi penghematan yang bijak adalah tetap menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan.