bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography memperkirakan El Nino berpeluang mencapai kekuatan tertinggi dalam catatan sejak 1950-an pada Oktober hingga Desember 2026. Ia menyebut kemungkinan fenomena itu melampaui rekor sebelumnya mencapai 75 persen.
Dalam webinar pada Selasa (29/9), Merrifield mengatakan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa memperlihatkan sinyal kuat menuju Super El Nino. Ia menyampaikan bahwa untuk periode Oktober–Desember 2026, peluang El Nino menjadi peristiwa bersejarah dan melewati rekor sejak 1950-an sebesar 75 persen.
Anomali suhu di Samudra Pasifik dilaporkan telah melampaui rekor, beberapa bulan sebelum El Nino diperkirakan mencapai puncak. Suhunya tercatat 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020, melampaui rekor 3,02 derajat Celsius pada akhir November 2015. Sementara itu, indeks ONI di wilayah Niño 3.4 berada 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015.
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menganalisis 14 model yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember. Dalam analisis yang diterbitkan Carbon Brief, ia menyebut proyeksi penguatan tersebut mencengangkan. Hausfather juga mengatakan kajian terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah menunjukkan belum ada El Nino dengan tingkat kekuatan seperti itu dalam seribu tahun terakhir.
Dampak El Nino dapat berbeda sesuai kondisi setempat. Merrifield mencontohkan wilayah pesisir California, yang dapat menghadapi gelombang lebih tinggi, kenaikan permukaan laut, pasang surut ekstrem, serta hujan lebat yang meningkatkan risiko banjir pesisir.
Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa dampak El Nino 2026–2027 di Benua Maritim Indonesia memiliki pola yang semakin beragam. Menurut dia, perbedaan dampak di berbagai wilayah tidak lagi dapat diterangkan hanya berdasarkan letaknya terhadap garis ekuator.
Erma menyebut kondisi lokal dan topografi ikut memengaruhi cuaca. Bogor, misalnya, masih kerap mengalami hujan karena faktor setempat dan topografi pegunungan. Kondisi itu berbeda dari Lamongan, Jawa Timur, yang mengalami periode kering lebih panjang.
Kajian tim Erma turut menyoroti musim kemarau yang bergeser dan berlangsung lebih lama, risiko terhadap produksi padi, serta tekanan panas lingkungan. Pengukuran dengan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menunjukkan Kalimantan dan Papua memiliki kerentanan tinggi terhadap tekanan panas. Erma juga menyoroti kemungkinan meningkatnya kebakaran hutan.
Erma mengatakan risiko kekeringan akibat El Nino diproyeksikan berlanjut hingga 2027–2028. Proyeksi itu didasarkan pada simulasi dan analisis 14 model iklim NASA NEX-GDDP. Ia menilai temuan tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang terhadap risiko kekeringan dan tekanan panas.