bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 03:05 WIB

Pasokan Sawit Indonesia Diperkirakan Menurun pada 2027, India Jadi Pasar Strategis

Redaksi 01 Oktober 2026 10 views
Pasokan Sawit Indonesia Diperkirakan Menurun pada 2027, India Jadi Pasar Strategis
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, pasokan minyak sawit Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan pada 2027. Peningkatan kebutuhan domestik akibat penerapan biodiesel B50 dan potensi penurunan produksi yang dipengaruhi El Niño menjadi faktor yang memengaruhi pasokan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan industri perlu mengantisipasi kondisi tersebut dengan meningkatkan produktivitas serta mempertahankan akses ke pasar ekspor. Ia menyampaikan hal itu dalam opening remarks GlobOil India 2026 di Mumbai, Selasa (29/9/2026).

Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkan biodiesel B50 secara nasional, dengan target penerapan penuh mulai 1 Oktober 2026. Kebijakan ini diperkirakan mendorong penggunaan minyak sawit di dalam negeri hingga 15,2–16,3 juta ton CPO per tahun, sehingga surplus yang tersedia untuk ekspor berpotensi menyusut.

GAPKI memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2027 turun 2,9 persen menjadi sekitar 56,8 juta ton. Perkiraan penurunan itu dikaitkan dengan kekeringan akibat El Niño di sejumlah wilayah perkebunan, terutama Sumatra dan Kalimantan.

Perubahan mekanisme perdagangan juga menjadi perhatian. Mulai 1 Januari 2027, ekspor lima produk sawit akan dilakukan melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Eddy menyatakan kebijakan tersebut bukan pembatasan perdagangan, melainkan penyesuaian tata kelola ekspor. Menurut dia, volume perdagangan tetap berjalan.

Di tengah tekanan pasokan, India dipandang sebagai salah satu pasar ekspor strategis karena kebutuhan impornya besar. Indonesia memasok hampir separuh kebutuhan sawit India. Pada triwulan I 2026, ekspor sawit Indonesia ke negara itu mencapai 988 ribu ton, naik 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

GAPKI menyambut penurunan bea masuk dasar CPO di India dari 10 persen menjadi 5 persen, yang berlaku mulai 24 September 2026. Organisasi tersebut memperkirakan India akan membutuhkan impor sawit sekitar 7–8 juta ton per tahun hingga 2030.

GAPKI juga menjajaki kerja sama peningkatan produktivitas dengan pelaku industri India. Upaya ini melanjutkan nota kesepahaman dengan Solvent Extractors’ Association of India (SEA) dan Asian Palm Oil Alliance (APOA) yang ditandatangani pada GlobOil 2025. GAPKI turut menandatangani perjanjian baru dengan Indian Vegetable Oil Producers’ Association (IVPA) untuk memperkuat hubungan industri sawit kedua negara.

Selain India, Indonesia melihat peluang pasar di Uni Eropa melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA). Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI Fadhil Hasan mengatakan perjanjian tersebut menyediakan kuota ekspor sawit dengan bea masuk nol persen serta tanpa bea keluar dan pungutan ekspor.

Kuota ekspor ke Uni Eropa dimulai dari 1,9 juta ton dan bertambah 3 persen per tahun selama sembilan tahun. Namun, pemanfaatannya bergantung pada kesiapan industri untuk memenuhi Regulasi Bebas Deforestasi Uni Eropa (EUDR).


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.