bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, harga beras di pasar induk atau grosir berfluktuasi mengikuti dinamika permintaan dan penawaran. Kondisi tersebut membuat pedagang eceran perlu mempertimbangkan berbagai hal sebelum mengubah harga jual.
Handi (39), pedagang di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, menyebut harga beras yang dibelinya dari Pasar Induk Beras Cipinang dalam dua pekan terakhir turun menjadi sekitar Rp 700 ribu per karung isi 50 kilogram. Sebelumnya, harga berada di kisaran Rp 725 ribu hingga Rp 730 ribu per karung.
Meski harga belinya turun, Handi mempertahankan harga eceran. Beras Pandan Wangi dijual Rp 15 ribu per liter, Rojo Lele Super Rp 13 ribu, Seigon Bandung Rp 14 ribu, Beras Merah Super dan Pera Super masing-masing Rp 16 ribu, serta Wangi Super Rp 18 ribu per liter.
Handi mengatakan, keuntungan yang ia peroleh sekitar Rp 1.000 per liter. Penurunan harga di pasar induk sebesar Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per karung dinilainya belum cukup untuk menurunkan harga eceran. Ia juga menanggung biaya rutin, seperti biaya pengelolaan pasar atau CMS dan listrik, serta pengeluaran untuk plastik. Harga plastik yang disebutnya saat ini Rp 160 ribu per 100 kantong, sedangkan harga normalnya sekitar Rp 90 ribu.
Ia juga tidak serta-merta menaikkan harga ketika harga beras di pasar induk meningkat. Menurut Handi, ia mempertimbangkan daya beli konsumen dan kualitas beras. Ia menyebut sejumlah toko beras di Pasar Rawamangun telah tutup, sementara dirinya berupaya mempertahankan usaha.
Handi menuturkan jumlah pembelinya terbatas. Sebagian konsumen beralih berbelanja melalui platform daring, sementara beberapa pemilik usaha seperti warung memilih membeli langsung di pasar induk. Pasar induk melayani pembelian beras sebanyak 10 atau 20 kilogram dengan harga yang lebih murah.