bytedaily - Menurut laporan jalopnik.com, meskipun Amerika Serikat telah melepaskan lebih dari 7 juta barel minyak dari cadangan daruratnya dalam satu minggu, tindakan ini tidak ditujukan untuk menurunkan harga bahan bakar di pompa bensin.
Pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar ini merupakan bagian dari kesepakatan dengan International Energy Agency (IEA) yang disetujui pada bulan Maret lalu, tak lama setelah dimulainya perang Iran. Negara-negara anggota IEA sepakat untuk melepaskan 400 juta barel minyak mentah dari cadangan darurat masing-masing guna mengatasi gangguan di pasar minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat berkewajiban menyediakan 172 juta barel minyak mentah dari cadangan daruratnya. Laporan enam minggu terakhir menunjukkan bahwa AS telah memenuhi komitmennya dengan melakukan penarikan kecil dari Strategic Petroleum Reserves (SPR) sejak pertengahan Maret. Penarikan terbesar terjadi pada minggu 24 April, dengan jumlah 7,1 juta barel.
Rencana AS, sebagaimana diuraikan oleh U.S. Energy Information Administration (EIA), adalah melepaskan 172 juta barel minyak mentah secara bertahap dalam beberapa minggu mendatang, bukan sekaligus. Penarikan 7,1 juta barel pada minggu tersebut tergolong tidak biasa, mengingat hanya 10,4 juta barel minyak mentah yang dilepaskan dalam empat minggu sebelumnya. Laporan EIA minggu lalu menunjukkan penarikan hanya sebesar 5,2 juta barel.
Meskipun AS telah menggunakan sebagian cadangan bahan bakarnya, masih terdapat lebih dari 390 juta barel minyak di dalamnya. Namun, minyak tersebut tidak dialokasikan untuk membantu konsumen Amerika. Kenyataannya, AS sedang mengkompensasi kekurangan produksi yang turut diciptakannya, yang telah berdampak besar pada bahan bakar jet, diesel, dan bahan bakar kapal. Bahkan jika perang segera berakhir, pemulihan dari kekurangan pasokan ini akan memakan waktu.
Sementara itu, harga bensin kemungkinan akan tetap tinggi karena permintaan global terus menggerus pasokan minyak dunia. Surplus minyak AS yang melimpah dan produksi harian 16 juta barel minyak mentah menjadi komoditas yang sangat dicari. Di sisi lain, bantuan apa pun dari pemerintah AS untuk konsumen tidak menjadi prioritas Gedung Putih.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.