bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria menekankan pentingnya kajian komprehensif berbasis data dalam mengidentifikasi sumber polusi udara di Jakarta. Tujuannya agar kebijakan pengendalian pencemaran efektif dan tidak berdampak negatif pada aktivitas ekonomi. Sofyano menyoroti perlunya bukti ilmiah yang kuat, seperti data emisi, arah angin, pemodelan dispersi, dan pengukuran konsentrasi polutan, untuk mendukung klaim bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Banten menjadi penyebab utama polusi di ibu kota.
Menurutnya, analisis dampak PLTU Suralaya juga harus mencakup wilayah yang lebih dekat dengan sumber emisi, seperti Banten. Penjelasan transparan mengenai jejak pergerakan polutan dari sumber hingga wilayah terdampak sangat diperlukan. Sofyano meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyajikan data pendukung yang valid apabila menyatakan PLTU Suralaya berkontribusi terhadap polusi udara Jakarta, karena publik berhak melihat bukti ilmiah, bukan sekadar pernyataan.
Sofyano menambahkan bahwa polusi udara Jakarta merupakan isu kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sumber polusi dapat berasal dari emisi kendaraan bermotor, kegiatan industri, konstruksi, debu jalan, pembakaran terbuka, hingga emisi dari wilayah sekitar. Selain itu, faktor meteorologi juga berperan dalam konsentrasi polutan di udara. Oleh karena itu, penentuan sumber dominan polusi memerlukan analisis yang mempertimbangkan seluruh sumber emisi serta kondisi atmosfer.