bytedaily
Selasa, 19 Mei 2026 - 04:38 WIB

Penyebab Umum Ban Pecah dan Pentingnya Menjaga Tekanan Udara Ideal

Redaksi 10 Mei 2026 12 views
Penyebab Umum Ban Pecah dan Pentingnya Menjaga Tekanan Udara Ideal
Ilustrasi visual (Sumber: jalopnik.com)

bytedaily - Ban pecah merupakan salah satu ketakutan terbesar bagi banyak pengemudi. Selain suara ledakan, getaran, dan guncangan saat ban kehilangan tekanan udara secara tiba-tiba, pecahnya ban dapat membuat kendaraan sulit dikendalikan, terutama jika terjadi pada kecepatan tinggi. Meskipun ban pecah bisa terjadi mendadak tanpa peringatan, sebagian besar insiden tersebut sebenarnya dapat dicegah, terlepas dari kondisi jalan dan cuaca yang berubah.

Menurut laporan jalopnik.com, ban pecah dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Ban yang sudah tua dan menunjukkan tanda-tanda keretakan akibat penuaan (dry rot) tidak mampu menahan tekanan udara dengan baik dan rentan pecah. Ban yang aus pada pelek yang bengkok parah juga dapat menjadi bom waktu. Namun, studi oleh National Transportation Safety Board (NTSB) menunjukkan bahwa defleksi berlebihan pada permukaan tapak ban, yang terjadi saat ban kempes, kelebihan beban, atau kurang tekanan udara, adalah penyebab paling umum ban pecah.

Ban yang kurang tekanan udara atau kelebihan beban memiliki area kontak yang lebih luas dengan permukaan jalan. Dalam kondisi tersebut, ban menghasilkan lebih banyak gesekan dan panas saat berputar. Panas berlebih sangat merusak ban. Kurang tekanan udara juga memberikan tekanan yang tidak perlu pada tepi sabuk ban dan bahu ban. Panas berlebih dan kelelahan material pada akhirnya akan menyebabkan ban pecah, sehingga sangat penting untuk selalu menjaga tekanan udara yang tepat setiap kali berkendara.

Di sisi lain, terlalu banyak udara juga dapat membahayakan. Studi terpisah yang diterbitkan oleh National Center for Biotechnology Information menemukan bahwa ban yang terlalu banyak tekanan udara sama rentannya terhadap pecah seperti ban yang kurang tekanan udara. Tekanan udara yang berlebihan memberikan tekanan yang tidak semestinya pada komponen internal ban dan pada akhirnya akan melemahkan strukturnya, membuatnya lebih mungkin pecah saat terkena lubang atau kerikil di jalan.

Selain itu, terlalu banyak udara mengurangi area kontak ban dengan jalan. Hal ini berarti traksi ban berkurang, yang sangat berbahaya saat jalanan licin atau basah. Ban yang terlalu banyak tekanan udara juga menghasilkan pengendaraan yang lebih kaku dan menyebabkan keausan tapak ban yang tidak merata, terutama di bagian tengah tapak yang akan lebih cepat aus dibandingkan bagian bahu ban. Dalam kondisi apa pun, ban yang terlalu banyak tekanan udara berbahaya, tidak aman, dan sama rentannya mengalami kerusakan akibat lubang dan trotoar seperti ban yang kurang tekanan udara.

Jika ban depan pecah, pengemudi akan merasakan getaran lebih kuat pada setir. Sebaliknya, jika ban belakang yang pecah, getaran akan terasa pada bodi kendaraan. Apapun yang terjadi, tips untuk selamat dari ban pecah di jalan raya tetap sama, yaitu jangan panik dan tetap tenang untuk mendapatkan kembali kendali atas mobil. Pengemudi disarankan untuk memegang setir dengan kedua tangan dan secara bertahap mengangkat kaki dari pedal gas saat mendengar suara ban pecah. Tujuannya adalah mengurangi kecepatan sambil menstabilkan kendaraan dan menjaga arah tetap lurus dengan gerakan setir yang lembut. Hindari mengerem mendadak karena dapat membuat kendaraan lebih sulit dikendalikan. Usahakan untuk menepi ke pinggir jalan dengan tenang saat kondisi aman.

Setelah mobil berhenti, nyalakan lampu hazard, hubungi bantuan, atau gunakan ban serep. Ban pecah bisa menimpa siapa saja, namun sedikit perhatian dan perawatan dapat sangat membantu mencegah insiden terkait ban. Periksa tekanan udara ban setiap minggu atau sebelum melakukan perjalanan jauh. Mintalah teknisi memeriksa dan merotasi ban setiap 5.000 hingga 7.000 mil.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.