bytedaily - PT Pertamina (Persero) secara proaktif mencari sumber pasokan minyak mentah alternatif di luar Timur Tengah, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu jalur suplai tradisional. Negara-negara di benua Afrika, bersama dengan Brazil, Amerika Serikat, dan Rusia, kini menjadi fokus utama diversifikasi impor energi perusahaan pelat merah ini.
Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif terhadap potensi penutupan Selat Hormuz, yang sebelumnya menyumbang sekitar 20 persen dari total impor minyak mentah Indonesia. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa perusahaan terus memonitor dinamika global dan berkoordinasi intensif dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bagi masyarakat dan industri. "Semua sumber sedang kami jajaki dan kami lakukan (impor), tidak hanya dari Afrika," ujar Baron, menekankan komitmen Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Langkah diversifikasi ini sejalan dengan arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang telah menjajaki berbagai opsi pasokan. Negosiasi pembelian minyak mentah dan LPG dari Rusia, yang dilakukan pada pertengahan April 2026, menjadi salah satu bukti nyata upaya pemerintah dalam mengamankan sumber energi alternatif. Upaya ini diharapkan dapat memitigasi dampak gejolak energi global dan memastikan stabilitas pasokan energi di dalam negeri.