bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, PLN Batam menduga gangguan yang menyebabkan listrik padam di Batam hingga Pulau Bintan, Kepulauan Riau, berkaitan dengan hewan liar yang masuk ke Gardu Induk Sungai Harapan. Sekretaris PLN Batam Rudi Antono menyebut monyet sebagai salah satu hewan yang diduga mengganggu sistem interkoneksi listrik Batam-Bintan. Namun, penyebab pasti gangguan masih ditelusuri tim teknis dan pihak berwenang.
Batam dan Bintan terhubung melalui jaringan listrik bawah laut bertegangan 150 kilovolt dengan panjang lebih dari 17,9 kilometer. Jaringan tersebut menyalurkan listrik dari pembangkit di Batam ke Bintan, termasuk Tanjungpinang.
PLN Batam menyatakan pasokan listrik kepada pelanggan terdampak di Kota Batam telah pulih. Gangguan yang menyebabkan pemadaman itu terjadi sejak pagi 12 Oktober. Menurut Rudi, proses pemulihan berkembang signifikan sejak Senin malam. Gardu induk dan jaringan transmisi yang terdampak telah dinormalkan, kemudian jaringan distribusi dipulihkan secara bertahap.
Rudi menjelaskan pemulihan mencakup pemeriksaan dan penormalan pembangkit, sinkronisasi unit, serta pemulihan jaringan transmisi dan distribusi. PLN Batam menyatakan keselamatan, kestabilan, dan keandalan sistem menjadi perhatian selama proses tersebut. Petugas teknis dan operasional juga tetap disiagakan untuk memantau kondisi kelistrikan.
PLN Batam menyebut pelanggan berhak memperoleh kompensasi apabila gangguan melampaui standar Tingkat Mutu Pelayanan atau Service Level Agreement yang diperjanjikan. Berdasarkan Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 22 Tahun 2017, kompensasi bagi pelanggan reguler sebesar 10 persen dari biaya beban bulanan. Untuk pelanggan layanan keandalan, besarnya 15 hingga 25 persen dari Rupiah Pemakaian Tenaga Listrik, sesuai jenis layanan yang diperjanjikan.
Rudi mengatakan kompensasi akan diberikan otomatis melalui tagihan listrik berikutnya tanpa pengajuan klaim. PLN Batam juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan dan mengapresiasi dukungan masyarakat selama pemulihan.