bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, Porsche dikenal luas dengan mesin enam silinder boxer (flat-six) yang telah menjadi ciri khasnya sejak 1963 pada mobil ikonik Porsche 911. Namun, sejarah perusahaan otomotif asal Jerman ini tidak melulu soal mesin flat-six. Porsche pernah bereksperimen dengan berbagai konfigurasi mesin lainnya, baik sebelum maupun sesudah era flat-six dimulai.
Bahkan, divisi motorsport Porsche pernah menciptakan mesin flat-12 berpendingin udara legendaris untuk mobil balap 917 demi mendominasi Le Mans. Mesin monster ini mampu menghasilkan sekitar 1.000 tenaga kuda pada varian 917/30 Can-AM yang menggunakan turbo. Porsche juga pernah mencoba mesin flat-16 berkapasitas 7,2 liter yang merupakan unit aspirasi alami (naturally aspirated) berukuran besar. Namun, obsesi Porsche juga menghasilkan kegagalan, seperti mesin V12 Tipe 3512 untuk tim F1 Footwork-Arrows pada tahun 1991 yang terbukti terlalu berat dan lemah untuk bersaing.
Jika berfokus pada mobil produksi, Porsche memulai perjalanannya dengan konfigurasi mesin flat-empat. Seiring waktu, mereka juga memperkenalkan mesin inline-empat, V6, V8, dan bahkan V10.
Mesin empat silinder Porsche, yang sering dianggap sebagai pilihan yang lebih terjangkau, sebenarnya lebih mengedepankan presisi dan keberlanjutan. Pada tahun 1930-an, Porsche 356 menggunakan mesin flat-empat yang berbasis pada mesin Volkswagen Beetle. Ketika 911 hadir dengan harga yang mahal, Porsche membutuhkan mobil sport dengan harga lebih terjangkau. Solusinya adalah 912, yang menggunakan bodi 911 namun dipasangi mesin flat-empat 1,6 liter dari 356 SC. Porsche 912 bahkan lebih ringan dan seimbang dibandingkan 911 generasi awal yang cenderung mudah kehilangan kendali di bagian belakang.
Pergeseran signifikan terjadi pada era 1970-an yang disebut Porsche sebagai "era Transaxle". Porsche 924 diluncurkan dengan mesin inline-empat 2,0 liter berpendingin air yang dipasang di depan. Mesin ini berasal dari Audi dan bahkan digunakan pada AMC Gremlin. Kemudian, Porsche 944 hadir dengan mesin 2,5 liter yang pada dasarnya adalah separuh dari mesin V8. Berkat bantuan poros penyeimbang berputar berlawanan arah dari Mitsubishi, 944 mampu berjalan mulus dan andal. Evolusi ini mencapai puncaknya pada 968, yang menampilkan mesin inline-empat 3,0 liter, salah satu mesin empat silinder terbesar yang pernah dipasang pada mobil produksi, mampu menghasilkan 236 tenaga kuda.
Saat ini, mesin empat silinder tetap hidup dalam wujud flat-empat dengan induksi paksa pada 718 Boxster dan Cayman. Mesin ini membuktikan bahwa enam silinder tidak selalu diperlukan untuk membuat mobil terasa seperti instrumen presisi, yang terpenting adalah obsesi Porsche terhadap distribusi bobot.
Pembahasan mengenai Porsche non-flat-six tidak lengkap tanpa menyebutkan mesin V6 yang menjadi andalan mereka. Selama bertahun-tahun, Porsche menggunakan mesin VR6 dari Volkswagen, namun dalam dekade terakhir, Porsche telah mengembangkan desainnya sendiri. Mesin V6 twin-turbo 2,9 liter terbaru yang ditemukan pada Macan S dan GTS merupakan mahakarya rekayasa "hot-V". Dalam konfigurasi ini, turbocharger twin-scroll ditempatkan di dalam sudut "V" 90 derajat mesin, menciptakan jalur buang yang sangat pendek antara katup buang dan turbo. Hal ini menghasilkan peningkatan tenaga yang hampir instan dan respons throttle yang cepat. Mesin ini juga dilengkapi sistem manajemen termal canggih di mana manifold buang terintegrasi ke dalam kepala silinder dan didinginkan oleh jaket pendingin mesin. Ini memungkinkan mesin cepat panas dan juga menurunkan suhu gas buang.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.