bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 11:59 WIB

Potensi Bahaya Gunung Anak Krakatau Diungkap Badan Geologi Akibat Erupsi Berulang

Redaksi 06 September 2026 3 views
Potensi Bahaya Gunung Anak Krakatau Diungkap Badan Geologi Akibat Erupsi Berulang
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Gunung Anak Krakatau dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang memicu serangkaian erupsi sejak Jumat (4/9). Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengidentifikasi berbagai potensi bahaya yang timbul akibat eskalasi aktivitas ini, termasuk lontaran material pijar dan abu vulkanik.

Menurut Badan Geologi, rentetan letusan Gunung Anak Krakatau disebabkan oleh aktivitas magmatik yang masih dinamis di dalam gunung tersebut. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan bahwa peningkatan aktivitas ini terlihat dari frekuensi erupsi yang terjadi secara berkelanjutan.

"Aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara terus-menerus. Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung," ujar Lana Saria, Minggu (6/9).

Meskipun demikian, Lana Saria mengimbau masyarakat agar tidak panik berlebihan, sebab tingginya frekuensi letusan tidak secara otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar. Ia menambahkan bahwa Badan Geologi akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan, bukan semata-mata dari jumlah atau tinggi kolom erupsi.

Lebih lanjut, Lana memaparkan potensi ancaman utama yang perlu diwaspadai di sekitar kawah dan tubuh gunung. Bahaya tersebut meliputi lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, serta paparan gas beracun.

"Bahaya yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau," tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa lontaran material ini berpotensi merusak peralatan di dekat pusat aktivitas dan membahayakan individu yang memasuki zona terlarang.

Lana Saria juga menyebutkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau berpotensi mengalami fluktuasi atau bahkan peningkatan di masa mendatang, berdasarkan rekaman data kegempaan yang terdeteksi oleh instrumen pemantau. Jenis kegempaan yang terekam, seperti gempa frekuensi rendah, hibrid, harmonik, dan tremor, mengindikasikan pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api.

Meskipun demikian, Badan Geologi menegaskan bahwa prediksi pasti mengenai waktu dan besaran erupsi berikutnya tidak dapat ditentukan secara akurat. Oleh karena itu, pemantauan berkelanjutan terus dilakukan untuk mengantisipasi setiap perubahan parameter vulkanik secara real-time. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan diimbau untuk mematuhi rekomendasi zona bahaya yang telah ditetapkan dan menjaga jarak aman dari kawasan kawah Gunung Anak Krakatau.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.