bytedaily - PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan bahwa harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi akan tetap stabil dan pasokan nasional terjamin, meskipun terjadi gejolak di jalur perdagangan internasional seperti Selat Hormuz. Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa penurunan HET pupuk subsidi sebesar 20 persen yang berlaku sejak Oktober 2025 tidak akan dibatalkan.
Menurut Rahmad, gejolak di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi 30 persen perdagangan pupuk dunia, tidak memberikan dampak signifikan terhadap pasokan pupuk di Indonesia. Kapasitas produksi urea dalam negeri yang mencapai 8,8 juta ton operasional dinilai memadai untuk memenuhi kebutuhan domestik, baik untuk subsidi maupun non-subsidi, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor.
Indonesia bahkan berpotensi menjadi penstabil dalam rantai pasok pangan global. Kendati harga urea global sempat melonjak akibat ketegangan di Selat Hormuz, hal tersebut tidak secara langsung mempengaruhi pasar domestik. Pasokan bahan baku pupuk lainnya seperti fosfat dan potas juga dipastikan aman karena produksi dari negara pemasok utama tidak terganggu. Potensi kenaikan biaya pengiriman dinilai tidak akan mengancam ketersediaan pupuk secara keseluruhan.
Keputusan pemerintah untuk menurunkan HET pupuk bersubsidi merupakan terobosan yang berdampak langsung pada penurunan biaya produksi, peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP), dan kesejahteraan petani. Penurunan HET untuk pupuk urea dan NPK telah memicu peningkatan penebusan pupuk yang signifikan pada tahun 2025 dan 2026, dengan peningkatan 31 persen pada tahun 2026.