bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, Amerika Serikat tengah menghadapi dampak buruk dari ketegangan global yang berujung pada lonjakan harga bahan bakar dan pembatalan ribuan penerbangan. Inflasi yang meroket dan harga bensin yang menembus rata-rata lebih dari $4 per galon di AS menjadi gambaran awal dari krisis yang lebih luas, terutama yang memengaruhi sektor transportasi udara.
Matt Smith, direktur riset komoditas Kpler, memperingatkan di CNBC's "Squawk Box" bahwa 12.000 penerbangan yang telah dibatalkan di bulan Mei, yang baru berjalan lima hari, hanyalah permulaan. Ia memprediksi kenaikan harga bahan bakar jet akan sangat memengaruhi rencana liburan musim panas, bahkan mungkin membatalkannya.
Kondisi ini disebabkan oleh penurunan drastis pasokan bahan bakar jet global. Ekspor bahan bakar jet global yang seharusnya mencapai dua miliar barel per hari, kini hanya 1,3 juta barel per hari. Angka ini menunjukkan defisit produksi dan distribusi bahan bakar jet sebesar 35 persen, sebuah angka yang signifikan.
Smith menjelaskan bahwa ketiadaan minyak mentah dari Timur Tengah menyebabkan produksi bahan bakar jet di Asia terganggu. Para penyuling berjuang memenuhi permintaan domestik, dan efek domino ini diperkirakan akan menyebar ke seluruh dunia dan memengaruhi berbagai produk turunan lainnya.
AS turut merasakan dampaknya dengan menyalurkan sekitar 16-17 juta barel produksi minyaknya per hari ke pasar global, termasuk bahan bakar jet yang dikirim ke Eropa. Meskipun produsen minyak Amerika mungkin meraup keuntungan dari lonjakan harga bahan bakar jet yang mencapai 70-110 persen sejak ketegangan di Iran meningkat, hal ini terjadi dengan mengorbankan pihak lain yang membutuhkan pasokan tersebut.
Bahan bakar jet dapat menyumbang hingga seperempat dari biaya operasional maskapai penerbangan. Kenaikan biaya bahan bakar yang eksponensial ini menjadi pukulan telak bagi maskapai seperti Spirit Airlines. Delta Airlines telah mengumumkan pemotongan penawaran makanan dan minuman pada penerbangan jarak kurang dari 250 mil mulai 19 Mei untuk mengimbangi biaya bahan bakar. Sejumlah maskapai lain juga dilaporkan telah mengurangi ketersediaan penerbangan, menaikkan harga bagasi, tiket, dan biaya tambahan bahan bakar untuk sedikit menutupi kerugian.
Smith menambahkan, pembatalan penerbangan lebih lanjut kemungkinan akan terjadi jika harga bahan bakar jet terus melonjak hingga tidak terjangkau oleh konsumen, atau jika beberapa wilayah benar-benar kehabisan pasokan bahan bakar jet. Ia menggambarkan situasi ini sebagai "kecelakaan mobil yang melambat, dan kita hanya berjalan melewatinya dalam keadaan tertidur."
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.