bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, nilai tukar rupiah ditutup pada posisi Rp17.995 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin (6/7) sore. Mata uang Indonesia ini mengalami pelemahan sebesar 32 poin atau setara dengan 0,18 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini terjadi bersamaan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga menunjukkan tren penurunan terhadap dolar AS. Mata uang seperti yuan China, peso Filipina, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, dan won Korea Selatan turut tertekan, dengan pelemahan bervariasi.
Dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang mencatat penguatan tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS. Tren serupa juga terlihat pada mata uang utama negara maju, di mana euro Eropa, poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss sebagian besar melemah terhadap dolar AS.
Menurut analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, sentimen terhadap rupiah masih dalam tren negatif. Hal ini disebabkan oleh adanya peringatan dari lembaga pemeringkat mengenai potensi penurunan peringkat utang Indonesia. Lukman menjelaskan bahwa peringatan dari Fitch mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia masih membebani persepsi pasar.
Selain itu, Lukman menambahkan bahwa pelaku pasar juga menunjukkan sikap kehati-hatian menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik penting yang dijadwalkan keluar sepanjang pekan ini. Investor tengah mengantisipasi data seperti cadangan devisa, penjualan ritel, dan indeks kepercayaan konsumen.