bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, mobil bermesin turbocharger tidak serta-merta tidak andal. Meskipun begitu, komponen ini dapat mengalami kerusakan prematur yang berujung pada biaya perbaikan mahal dan penurunan performa. Memahami faktor-faktor yang memengaruhi keawetan turbocharger menjadi krusial bagi pemilik kendaraan atau calon pembeli mobil bermesin turbo.
Tiga penyebab utama kerusakan prematur pada turbocharger, selain cacat produksi, adalah kekurangan oli (oil starvation), kontaminasi oli, dan masuknya kotoran (debris ingestion). Singkatnya, jika suplai oli ke turbocharger terkontaminasi atau berkurang, umur pakainya akan jauh lebih pendek. Kontaminan umum meliputi partikel karbon, serpihan logam, bahan bakar, dan cairan pendingin. Kontaminan ini juga termasuk dalam kategori benda asing dan kotoran, yang berkaitan dengan penyebab ketiga, yaitu masuknya kotoran ke dalam turbocharger.
Oli yang terkontaminasi dapat merusak kondisi internal turbocharger. Hal ini meningkatkan gesekan, yang pada gilirannya menaikkan suhu operasional, sekaligus mengikis komponen vital seperti seal, bearing, dan poros. Kondisi ini mengganggu keseimbangan turbocharger, dan tak lama kemudian tanda-tanda kerusakan akan mulai terlihat. Turbocharger yang kekurangan oli juga menghadapi masalah serius. Aliran oli bersih yang konstan sangat dibutuhkan untuk operasi efisien pada kecepatan sekitar 200.000 rpm. Tanpa suplai tersebut, kegagalan katastropik bisa terjadi dalam hitungan menit.
Solusi untuk menjaga turbocharger tetap awet sebenarnya tidak rumit dan mudah diterapkan. Mengingat masalah pada suplai oli seringkali menjadi penyebab utama kerusakan prematur, fokus pada aspek ini adalah langkah awal yang bijak. Memastikan kualitas oli mesin baik dan sesuai spesifikasi pabrikan sangat penting untuk kesehatan turbocharger. Ini tidak berarti harus menggunakan oli termahal atau beralih ke oli sintetis. Yang terpenting adalah memastikan penggantian oli dilakukan sesuai panduan pabrikan, memeriksa kontaminasi oli oleh cairan pendingin atau bahan bakar, serta penggunaan grade oli yang tepat. Jika ragu, segera ganti oli. Penggantian oli dan filter berkualitas jauh lebih murah dibandingkan mengganti turbocharger.
Selain perawatan oli, aspek perawatan mobil lainnya juga secara langsung memengaruhi umur turbocharger. Kebocoran pada sistem boost (boost leak) dapat membuat turbocharger bekerja terlalu keras, sementara filter udara yang kotor dapat memasukkan debu dan partikel halus ke dalam komponen internal turbo. Mengatasi kebocoran, mengganti filter secara berkala, dan menjaga seluruh aspek perawatan umum mobil adalah kunci agar turbocharger berumur panjang.
Jika perawatan mobil sudah baik, oli bersih, namun turbocharger tetap sering rusak, maka perilaku pengendara bisa jadi penyebabnya. Kebiasaan berkendara yang buruk dapat memperpendek usia turbocharger. Oleh karena itu, bagi yang ingin memperpanjang usia turbocharger, ada beberapa saran penting.
Turbocharger membutuhkan suplai oli yang memadai, namun memiliki oli berkualitas saja tidak cukup. Pengendara perlu memastikan oli tersebut telah mencapai turbocharger sebelum mesin digeber. Oleh karena itu, hindari memanaskan mesin dengan putaran tinggi saat kondisi dingin (cold start), dan jangan langsung mematikan mesin setelah perjalanan selesai.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.