bytedaily
Rabu, 20 Mei 2026 - 19:51 WIB

Transformasi Transportasi Publik Listrik, Kunci Kemandirian Energi dan Efisiensi Subsidi

Redaksi 12 April 2026 10 views
Transformasi Transportasi Publik Listrik, Kunci Kemandirian Energi dan Efisiensi Subsidi
Ilustrasi: Transformasi Transportasi Publik Listrik, Kunci Kemandirian Energi dan Efisiensi Subsidi

bytedaily - Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menekankan urgensi transformasi sistem transportasi publik menuju basis listrik sebagai strategi krusial untuk mengatasi krisis energi dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, langkah ini tidak hanya mendukung kemandirian energi nasional, tetapi juga berpotensi mereformasi alokasi subsidi energi yang selama ini dinilai kurang tepat sasaran. Percepatan migrasi ke transportasi umum berbasis listrik, seperti penggantian armada bus secara bertahap, dianggap sebagai cara paling efektif untuk menekan konsumsi BBM dan meningkatkan efisiensi energi di kota-kota besar.

Djoko, yang juga Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), menyoroti dominasi konsumsi energi pada kendaraan pribadi sebagai tantangan utama. Oleh karena itu, integrasi antarmoda transportasi seperti KRL, MRT, dan LRT dengan layanan pengumpan menjadi esensial untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi. Selain itu, reformasi subsidi BBM dinilai mendesak. Ia mengusulkan digitalisasi penyaluran subsidi berbasis data agar bantuan tersebut benar-benar dinikmati oleh angkutan umum dan sektor logistik, bukan lagi oleh kelompok menengah ke atas pengguna kendaraan pribadi.

Lebih lanjut, akademisi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang ini mengusulkan realokasi sebagian anggaran subsidi BBM untuk pembangunan infrastruktur pendukung kendaraan listrik, seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), jalur sepeda, dan fasilitas pejalan kaki. Insentif yang lebih besar untuk peralihan ke kendaraan listrik, terutama sepeda motor, juga dibutuhkan, dengan prioritas pada wilayah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan). Optimalisasi logistik berbasis kereta api, melalui percepatan pembangunan jalur ganda dan reaktivasi jalur lama di Jawa dan Sumatera, juga menjadi strategi penting untuk efisiensi energi. Terakhir, pengembangan bahan bakar nabati seperti biodiesel B40 dan B50 perlu terus dilanjutkan secara seimbang untuk ketahanan energi dan stabilitas pangan.