bytedaily - Menurut informasi dari ekonomi.republika.co.id, Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto menyatakan bahwa industri garmen di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) seharusnya memiliki daya saing yang lebih tinggi. Pernyataan ini disampaikan menyusul penutupan dua pabrik garmen di Semarang dan Jepara yang berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.400 karyawan.
Anne Patricia Sutanto mengaku tidak mengetahui secara spesifik alasan di balik bangkrutnya PT Victory Apparel Semarang dan PT Samwon Busana Indonesia Jepara. Hal ini dikarenakan kedua perusahaan tersebut bukan merupakan anggota dari AGTI. Namun, ia menjelaskan bahwa ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan perusahaan garmen mengalami kegagalan. Salah satunya adalah kemungkinan pembeli mengalami kebangkrutan, sehingga perusahaan garmen tidak menerima pembayaran. Ia mencontohkan pada masa pandemi Covid-19, banyak perusahaan garmen menghadapi kesulitan finansial karena pembeli atau retailer yang biasa melakukan pembelian mengalami kebangkrutan dan tidak melakukan pembayaran.
Meskipun tidak dapat memastikan penyebab pasti kebangkrutan kedua perusahaan tersebut, Anne Patricia Sutanto menekankan bahwa besaran upah minimum di Jawa Tengah masih tergolong kompetitif. Menurutnya, upah di Jawa Tengah tidak semahal di wilayah Jawa Barat seperti Bandung, atau di Banten seperti Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, sehingga seharusnya industri garmen di Jawa Tengah dapat bersaing lebih baik.
Anne Patricia Sutanto menambahkan bahwa AGTI memiliki banyak anggota di Jawa Tengah, dengan sekitar 30 anggota yang berfokus pada sektor ekspor. Ia mengamati bahwa anggota AGTI di Jateng yang berorientasi ekspor justru mengalami peningkatan penjualan. Ia meyakini bahwa sektor garmen, terutama di Jawa Tengah, seharusnya mengalami peningkatan asalkan memasok produk ke merek global. Ia menyebutkan bahwa ke-30 anggota AGTI di Jateng yang berorientasi ekspor semuanya melaporkan kenaikan penjualan.
Lebih lanjut, Anne Patricia Sutanto menerangkan bahwa industri garmen di Indonesia secara umum menunjukkan kinerja yang baik pada kuartal I 2026 dengan peningkatan penjualan. Namun, pada kuartal II, kondisi menjadi stabil bahkan cenderung menurun. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku akibat konflik global, sementara pasar tidak mampu menyerap kenaikan harga tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa anggota AGTI di Jawa Tengah yang termasuk dalam kategori Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga mengeluhkan kondisi bisnis mereka pada kuartal II 2026, berbeda dengan kuartal I yang mereka anggap baik karena adanya momentum Lebaran.