bytedaily
Selasa, 07 Juli 2026 - 12:32 WIB

BMKG Jelaskan Penyebab Cuaca Dingin di Indonesia, Bukan Karena Aphelion

Redaksi 07 Juli 2026 3 views
BMKG Jelaskan Penyebab Cuaca Dingin di Indonesia, Bukan Karena Aphelion
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, fenomena aphelion, yaitu saat Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari, adalah peristiwa astronomis yang terjadi setiap tahun. Meskipun sering dikaitkan dengan cuaca dingin, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa cuaca dingin di Indonesia tidak disebabkan oleh aphelion.

Menurut BMKG, fenomena aphelion yang terjadi pada awal Juli ini tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap fenomena atmosfer atau cuaca di permukaan Bumi. Cuaca dingin yang dirasakan di Indonesia pada periode Juli hingga September justru merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi saat puncak musim kemarau.

BMKG menjelaskan bahwa pada periode musim kemarau, wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara mengalami pergerakan angin dari arah timur-tenggara yang berasal dari Benua Australia. Saat Juli, Benua Australia sedang memasuki musim dingin. Adanya tekanan udara yang relatif tinggi di Australia memicu pergerakan massa udara menuju Indonesia, yang dikenal sebagai Monsun Dingin Australia. Massa udara ini melewati Samudra Indonesia yang bersuhu relatif dingin, sehingga berdampak pada penurunan suhu udara di beberapa wilayah Indonesia, terutama di selatan khatulistiwa.

Selain pengaruh angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara juga berkontribusi terhadap suhu dingin di malam hari. Tanpa adanya uap air dan awan, energi radiasi yang dilepaskan Bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer. Langit yang cerah memungkinkan panas radiasi balik gelombang panjang terlepas langsung ke atmosfer luar, sehingga udara di dekat permukaan terasa lebih dingin, khususnya pada malam hingga pagi hari. BMKG menyatakan bahwa fenomena ini merupakan kejadian tahunan biasa dan berpotensi menyebabkan munculnya embun es atau embun upas di daerah seperti Dieng, dataran tinggi, atau wilayah pegunungan lainnya.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.