bytedaily - Dilansir dari techcrunch.com, Theo Baker, seorang mahasiswa tingkat akhir Universitas Stanford, akan segera merilis buku berjudul 'How to Rule the World: An Education in Power at Stanford University' setelah mendapatkan kesepakatan penerbitan dan penghargaan George Polk untuk pelaporan investigatifnya selama menjadi mahasiswa. Buku ini mengungkap sisi lain dari institusi yang seringkali diromantisasi tersebut.
Berdasarkan kutipan yang diterbitkan The Atlantic, buku Baker mendalami budaya startup yang sangat ambisius di Stanford. Hal ini memunculkan pertanyaan serupa dengan film 'The Social Network', apakah sebuah buku dapat mengubah persepsi atau justru semakin mendorong generasi muda untuk mengejar kesuksesan ala Silicon Valley. Film 'The Social Network', yang menggambarkan pendiri Facebook Mark Zuckerberg, justru dikhawatirkan oleh penulis menjadi video rekrutmen yang mengagungkan ambisi, meskipun menampilkan kisah seorang pendiri yang mengorbankan persahabatan demi kekayaan.
Portret Stanford dalam buku Baker digambarkan lebih mendalam, merinci 'Stanford di dalam Stanford'. Ia mewawancarai ratusan orang untuk menggambarkan sebuah dunia tertutup yang hanya bisa dimasuki sejak tahun pertama kuliah. Dalam dunia ini, para pemodal ventura (VC) menjamu mahasiswa berusia 18 tahun, memberikan pendanaan awal bernilai ratusan ribu dolar bahkan sebelum ide orisinal muncul. Batasan antara bimbingan dan eksploitasi menjadi kabur, seolah-olah mengejar pendiri muda bukan lagi hal yang memalukan, melainkan sebuah keharusan bagi para VC.
Steve Blank, pengajar mata kuliah startup legendaris di Stanford, menggambarkan universitas tersebut sebagai 'inkubator dengan asrama', sebuah pernyataan yang tidak dimaksudkan sebagai pujian. Tekanan untuk sukses di dunia startup tidak hanya datang dari luar, tetapi telah sepenuhnya diinternalisasi oleh para mahasiswa. Jika 10-15 tahun lalu mahasiswa Stanford merasakan ekspektasi Silicon Valley dari luar, kini banyak yang sudah datang ke kampus dengan ekspektasi untuk mendirikan startup, menggalang dana, dan menjadi kaya.
Penulis juga menyoroti kisah seorang teman yang memilih untuk keluar dari Stanford di tengah masa studinya demi meluncurkan startup. Universitas, menurut pengakuannya, memberikan dukungan penuh untuk keputusan tersebut, yang kini menjadi hasil yang wajar. Temannya tersebut kini telah menggalang dana dalam jumlah besar dan memiliki pemahaman mendalam tentang aspek-aspek bisnis startup. Namun, di balik kesuksesan tersebut, ia tidak memiliki waktu untuk keluarga, jarang berkencan, dan perusahaannya terus berkembang.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi techcrunch.com.