bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, rentetan gempa berkekuatan besar yang terjadi di kawasan Pasifik dalam sebulan terakhir tidak menunjukkan adanya peningkatan aktivitas Cincin Api Pasifik. Salah satu gempa signifikan yang tercatat adalah gempa Magnitudo 7,8 yang mengguncang Filipina pada 8 Juni, bahkan sempat memicu peringatan tsunami di beberapa wilayah Indonesia.
Selain itu, wilayah utara Indonesia juga mengalami rentetan gempa, termasuk gempa M6,7 di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang disebabkan oleh aktivitas subduksi.
Menurut Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), fenomena ini merupakan hal yang wajar. Ia menjelaskan bahwa secara global, terdapat sekitar 500.000 gempa bumi yang terdeteksi setiap tahunnya, dengan 90 persen di antaranya terjadi di Cincin Api Pasifik, atau sekitar 1.200 gempa per hari. Persepsi peningkatan aktivitas seringkali dipicu oleh pengelompokan waktu terjadinya gempa signifikan dan cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial.
Secara global, aktivitas gempa tahun ini masih berada dalam fluktuasi statistik yang normal dan tidak melebihi rata-rata historis. Rata-rata global mencatat sekitar 15 gempa magnitudo 7,0 ke atas dan 130-140 gempa magnitudo 6,0 ke atas per tahun. Daryono menegaskan bahwa naik turunnya jumlah gempa merupakan siklus alamiah bumi dalam proses pelepasan tegangan batuan.
Bagi Indonesia, yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, rentetan gempa ini tidak memberikan dampak signifikan di luar potensi kebencanaan rutin yang sudah menjadi karakteristik geografis negara ini. Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, namun gempa di wilayah lain seperti Venezuela, Jepang, atau California tidak akan memicu gempa di Indonesia karena jarak dan sistem lempeng yang independen.
Daryono menekankan bahwa fokus kewaspadaan di Indonesia seharusnya tertuju pada aktivitas pelepasan energi dari zona gempa regional dan lokal yang terus-menerus terjadi di dalam negeri, serta penguatan mitigasi bencana.