bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, kepemilikan investor asing atas Surat Berharga Negara (SBN) kini berada di kisaran 13–14 persen, jauh lebih rendah dibandingkan hampir 40 persen sekitar satu dekade lalu. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut pembiayaan pemerintah kini lebih banyak ditopang investor domestik.
Juda mengatakan strategi pembiayaan pemerintah tetap berfokus pada sumber dalam negeri karena dinilai relatif tidak rentan terhadap gejolak global. Pernyataan itu disampaikan dalam Media Gathering bertema APBN 2027 Tumbuh Lebih Tinggi Sejahtera Lebih Cepat pada Kamis (1/10/2026).
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko per 15 September 2026 menunjukkan kepemilikan asing di SBN tercatat 13,09 persen atau Rp904,39 triliun. Nilai tersebut terdiri atas Surat Utang Negara sebesar Rp885,98 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara sebesar Rp18,41 triliun.
Menurut Juda, berkurangnya porsi kepemilikan asing dapat menekan kerentanan pasar keuangan Indonesia terhadap perubahan sentimen global, termasuk di pasar uang dan valuta asing.
Pemerintah, kata Juda, akan tetap menjaga defisit dan pembiayaan dalam batas aman. Pengelolaan utang juga diarahkan agar imbal hasil SBN tetap menarik tanpa membuat biaya pembiayaan utang menjadi terlalu besar.