bytedaily - Tragedi kebakaran yang melanda rumah Nenek Asiah di Muaro Jambi, Jumat malam lalu, membuka kembali luka lama tentang kerentanan infrastruktur dan para lansia yang hidup sendiri. Peristiwa memilukan ini, yang diduga dipicu oleh korsleting listrik, seharusnya menjadi pengingat tegas akan ancaman yang kerap terabaikan di tengah gempuran modernisasi. Bukan sekadar musibah, kebakaran yang meludeskan rumah Nenek Asiah hingga rata dengan tanah ini adalah cerminan dari kegagalan sistemik kita dalam melindungi kelompok paling rentan.
Fokus utama pada korsleting listrik, meski menjadi penyebab langsung, mengalihkan perhatian dari akar masalah sebenarnya. Berapa banyak rumah di daerah-daerah terpencil, terutama yang dihuni oleh warga lanjut usia atau mereka yang hidup sendiri, yang memiliki instalasi listrik yang memadai dan teruji keamanannya? Keterbatasan finansial seringkali memaksa mereka menggunakan sambungan listrik seadanya, yang berisiko tinggi menjadi pemicu bencana. Kasus Nenek Asiah ini seharusnya memicu investigasi lebih dalam terhadap standar keselamatan kelistrikan di permukiman warga, bukan sekadar pemadaman api dan perhitungan kerugian.
Analisis jangka panjang dari peristiwa ini adalah tantangan besar bagi pemerintah daerah dan pusat. Bagaimana kita memastikan setiap rumah, terlepas dari status ekonomi penghuninya, memiliki akses pada instalasi listrik yang aman? Program perbaikan rumah tidak layak huni harusnya tidak hanya menyentuh aspek fisik bangunan, tetapi juga aspek utilitas vital seperti kelistrikan. Selain itu, perlu ada program pendampingan bagi lansia tunggal, bukan hanya dalam hal bantuan materiil, tetapi juga advokasi dan edukasi mengenai keselamatan di rumah, termasuk pencegahan kebakaran akibat korsleting.
Kisah Nenek Asiah adalah lonceng peringatan. Ia mengajak kita untuk melihat lebih dari sekadar puing-puing, melainkan menyelami luka struktural yang menganga. Pertanyaan mendasarnya, apakah kita akan terus membiarkan kaum rentan menjadi korban utama dari ketidakpedulian sistemik, ataukah kita akan bergerak untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi semua?
Disclaimer: Artikel ini adalah analisis ulang dari berita yang terbit di www.jambione.com.