bytedaily
Jumat, 17 Juli 2026 - 04:43 WIB

Laba Bersih BTN Melonjak 40,8 Persen Menjadi Rp2,4 Triliun di Semester I 2026

Redaksi 16 Juli 2026 3 views
Laba Bersih BTN Melonjak 40,8 Persen Menjadi Rp2,4 Triliun di Semester I 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,4 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 40,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menjelaskan bahwa kenaikan laba ini tidak semata-mata didorong oleh pertumbuhan bunga kredit. Sebaliknya, peningkatan tersebut merupakan hasil dari upaya efisiensi operasional, penerapan digitalisasi, serta penurunan biaya dana (cost of fund).

"Kalau ditanya kenapa labanya naik, bunganya naik ya? Enggak, cost of fund-nya yang turun," ungkap Nixon dalam paparan kinerja BTN per Juni 2026 pada Kamis (16/7). Ia merinci bahwa meskipun pendapatan bunga mengalami penurunan, hal tersebut berhasil diimbangi oleh penurunan biaya bunga yang lebih besar, sehingga mampu mendongkrak laba bersih perseroan.

Nixon menekankan bahwa kesuksesan perseroan saat ini lebih bertumpu pada efisiensi proses, digitalisasi, dan pemanfaatan teknologi yang membuat operasional menjadi lebih ringkas, bukan pada kenaikan suku bunga bagi nasabah kredit.

Selain laba, kinerja BTN juga menunjukkan pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 11,2 persen hingga akhir Juni 2026, mencapai Rp418,11 triliun. Total aset perseroan meningkat 12,4 persen menjadi Rp545 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,6 persen menjadi Rp433 triliun.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross berhasil ditekan menjadi 2,99 persen, turun dari posisi sebelumnya yang berada di atas 3 persen. Rasio Loan at Risk (LAR) juga membaik menjadi 18,6 persen, dan rasio kecukupan modal (CAR) mengalami kenaikan menjadi 20 persen.

Nixon menambahkan bahwa perbaikan kualitas kredit ini turut ditopang oleh pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses persetujuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ia mengamati bahwa indikator awal kualitas akuisisi kredit selama satu hingga dua tahun terakhir menunjukkan tren penurunan yang konsisten, menandakan peningkatan kualitas akuisisi.

Meskipun demikian, BTN memutuskan untuk merevisi target pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 menjadi kisaran 8-10 persen, lebih rendah dari rencana awal. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kondisi likuiditas industri perbankan yang masih ketat.

"Memang sampai akhir tahun mungkin kita akan sedikit menurunkan pertumbuhan kredit ke kisaran 8-10 persen karena memang duitnya langka," ujar Nixon. Ia mengaitkan kondisi ini dengan tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menyerap likuiditas perbankan, ditambah dengan persaingan penghimpunan dana yang kian intens.

Ke depannya, BTN tetap berkomitmen untuk mendorong penyaluran kredit pada segmen program pemerintah, seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Perseroan juga akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit korporasi yang memiliki imbal hasil rendah demi menjaga kondisi likuiditasnya.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.