bytedaily - Pangsa pasar merek otomotif asal China di Indonesia melesat tinggi pada awal tahun 2026, mendekati seperlima dari total penjualan nasional. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, pada periode Januari-Februari 2026, merek-merek China menyumbang 17,3% dari total penjualan grosir kendaraan, setara dengan 25.602 unit. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan capaian 7,8% pada periode yang sama tahun sebelumnya dan jauh di atas posisi di bawah 2% lima tahun lalu.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengungkapkan kesuksesan ini didorong oleh kemampuan merek China menangkap momentum pertumbuhan kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Mereka menawarkan produk dengan harga kompetitif, bukan hanya karena insentif pemerintah, tetapi juga berkat efisiensi rantai pasokan EV yang kompleks. Selain itu, mobil-mobil tersebut dilengkapi dengan fitur teknologi canggih dan kualitas rakitan yang terus meningkat, menciptakan persepsi baru bahwa mobil mewah tidak harus mahal.
Strategi agresif dalam layanan purnajual, seperti garansi kendaraan dan baterai berperiode panjang, turut menekan biaya kepemilikan dan meningkatkan daya tarik. Komitmen jangka panjang juga terlihat dari ekspansi fasilitas, seperti Geely yang menargetkan 80 diler pada akhir 2026, serta langkah perakitan lokal oleh pemain baru seperti Xpeng dan Changan. Ekspansi ini menandakan transformasi pasar otomotif Indonesia yang semakin kompetitif.