bytedaily - Menurut informasi dari ekonomi.republika.co.id, harga emas atau logam mulia diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp 2,57 juta hingga Rp 2,8 juta per gram pada pekan mendatang. Fluktuasi harga komoditas yang dianggap aman ini telah berlangsung di bawah level Rp 3 juta per gram selama lebih dari tiga bulan terakhir.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa jika harga emas mengalami koreksi, level support pertama berada di 4.023 dolar AS per troy ons, yang setara dengan Rp 2,64 juta per gram. Jika koreksi berlanjut, level support kedua adalah 3.906 dolar AS per troy ons atau Rp 2,57 juta per gram.
Sementara itu, jika harga emas menguat, level resisten pertama diproyeksikan mencapai 4.214 dolar AS per troy ons, atau sekitar Rp 2,68 juta per gram. Penguatan lebih lanjut dapat membawa harga emas dunia ke 4.348 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia mencapai Rp 2,8 juta per gram.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa dalam sepekan, emas dunia diperkirakan akan diperdagangkan antara level support 3.906 dolar AS per troy ons dan resisten tertinggi 4.348 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulia di Indonesia, rentang perdagangannya diprediksi berada di antara Rp 2,57 juta hingga Rp 2,8 juta per gram.
Selain pergerakan harga emas, harga minyak dunia jenis WTI crude oil diprediksi berada di kisaran 62,30-82,20 dolar AS per barel. Ibrahim melihat ada kemungkinan harga minyak akan turun namun dapat menguat tajam. Indeks dolar AS diperkirakan akan menguat dengan perdagangan di rentang 99,90-102,30. Mata uang rupiah diproyeksikan bergerak antara Rp 17.870 hingga Rp 18.300-an per dolar AS, di mana pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi penguatan harga emas.
Ibrahim Assuaibi mengidentifikasi empat faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga komoditas tersebut, yaitu faktor geopolitik, perpolitikan di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral AS, serta dinamika permintaan dan penawaran (supply and demand). Konflik geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran, termasuk penutupan Selat Hormuz, serta eskalasi konflik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, menjadi perhatian utama yang dapat memengaruhi pasar.