bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memperkirakan proyek LNG Abadi Blok Masela akan menyumbang pendapatan langsung kepada negara sebesar US$37,8 miliar atau setara dengan Rp680 triliun, dengan asumsi kurs Rp18 ribu per dolar AS, ketika operasionalnya telah berjalan penuh.
Menurut Bahlil, penerimaan negara tersebut akan berasal dari berbagai sumber, termasuk pajak, royalti, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta dividen. Proyek ini ditargetkan untuk mulai beroperasi penuh atau 'on stream' pada tahun 2029.
Bahlil menyampaikan hal tersebut saat acara Groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela yang diselenggarakan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7). Ia menekankan bahwa Proyek Abadi Masela akan memberikan manfaat ekonomi dan fiskal yang substansial, termasuk peningkatan penerimaan negara.
Selain itu, kontribusi pajak tidak langsung dari proyek ini diperkirakan mencapai US$6,43 miliar per tahun, yang mulai berlaku sejak tahun ini setelah seremoni groundbreaking dilaksanakan. Angka ini mencakup periode konstruksi dan operasi.
Lebih lanjut, proyek Blok Masela diprediksi akan menciptakan banyak lapangan kerja, dengan estimasi penyerapan 12 ribu tenaga kerja selama fase konstruksi dan sekitar 800 hingga 1.000 tenaga kerja saat tahap operasional.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa pembangunan Blok Masela diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar US$137,8 miliar bagi perekonomian nasional. Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku sebesar US$95 miliar dan PDRB Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebesar US$92 miliar.
Menindaklanjuti arahan Presiden, Bahlil menyatakan telah berkomunikasi dengan SKK Migas agar pekerjaan dalam proyek ini diprioritaskan bagi pengusaha lokal di wilayah tersebut, sejalan dengan prinsip menjadikan masyarakat daerah sebagai objek dan subjek pembangunan.